Thursday, May 10, 2018

Masyarakat Zona Degradasi

Masyarakat Zona Degradasi. Sumber: tentangbipolar.com


"1 Tindakan bisa membuat kita terjatuh, namun ada 1000 cara untuk bangkit." -Anonim

Masyarakat Zona Degradasi - Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia dalam kondisi yang buruk. Tuhan telah menciptakan manusia benar-benar dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Tuhan sudah menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di bumi. Oleh karenanya, dari segi bentuk dan perangkatnya, manusia tercipta dalam kondisi yang sebaik mungkin.

Namun kenyataannya di dunia ini selalu ada seleksi berupa ujian dan rintangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan Tuhan menjadi pemimpin di bumi ini. Ada kalanya manusia terlahir cacat, mempunyai kelainan, atau hidup penuh penderitaan dan kekurangan. Saya mengistilahkan hal ini dengan ciri masyarakat zona degradasi.

Di sisi lain, ada sekumpulan manusia yang terlahir dengan kondisi terbaik, lingkungan terbaik dan tidak dalam penderitaan serta kekurangan. Fisiknya sempurna, lingkungannya terbaik, hidup berkecukupan atau lebih- dan tidak ada halangan besar untuk mencapai visi Tuhan dalam menciptakan manusia menjadi pemimpin di dunia dan beribadah kepada-Nya.

Sudah jelas masyarakat yang hidupnya tidak banyak rintangan dan cobaan lebih mempunyai kesempatan yang besar untuk hidup berkembang. Sebaliknya, masyarakat zona degradasi harus berjuang keras untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Sebagai contoh, dalam sepakbola, ada tiga tim di dasar klasemen suatu liga yang akan tersingkir dari liga di musim depan. Jika tiga tim tersebut berada di level liga 1, maka musim depan mereka akan berlaga di liga 2 liga yang tingkatnya lebih rendah dari liga 1. Sebelum liga berakhir, mau tidak mau mereka harus berusaha keluar dari zona degradasi agar musim depan bisa kembali berlaga di liga paling bergengsi tersebut liga 1- dengan cara memenangkan pertandingan tersisa sehingga bisa lolos dari zona degradasi.

Beberapa tim ada yang mempunyai keajaiban untuk bisa lolos dan ada pula yang terpuruk di dasar klasemen zona degradasi.

Tulisan ini jelas tidak membahas mereka yang benar-benar terpuruk di dasar klasemen dan masuk ke zona degradasi, sebaliknya, mereka yang lolos zona degradasi-lah yang akan kita pelajari agar menjadi semangat hidup ke depannya.

Banyak sekali contoh masyarakat zona degradasi yang bisa kita ambil untuk pelajaran saat mereka berusaha keluar dari zona degradasi. Salah satunya, terkutip dari sains.kompas.com masyarakat zona degradasi yang kita bahas adalah Abbas ibn Firnas. Seorang ilmuan muslim pertama yang hampir dianggap gila karena percobaannya terbang seperti burung di udara. Ibn Firnas terinspirasi dari Armen Firman yang membuat alat sutra yang diperkuat dengan batang kayu. Lantas ia terjun dari ketinggian, tetapi tak berhasil.

Ibn Firnas yang dalam kerumunan itu terinspirasi untuk membuat sesuatu yang bisa terbang layaknya seekor burung. Namun penelitiannya dianggap tak akan berhasil mengikuti jejak Armen Firman. Tapi, Ibn Firnas berusaha keluar dari zona degragasi. Di usianya yang telah 65 tahun, ia merancang dan membuat sebuah alat terbang yang mempu membawa penumpang.

Saat mengujinya, Ibn Firnas sempat mengucapkan salam perpisahan yang mengesankan.

Saat ini, saya akan mengucapkan selamat tinggal. Saya akan bergerak dengan mengepakkan sayap, yang seharusnya membuat saya terbang seperti burung. Jika semua berjalan dengan baik, saya bisa kembali dengan selamat.

Namun, nass, ia lupa memberikan ekor pada rancangannya sehingga pendaratannya tak berjalan mulus. Kemudian kecelakaan terjadi yang menyebabkan punggungnya cedera. Ia tak kuat menahan cederanya dan akhirnya wafat.

Tidak sampai di situ, penelitian ini diteruskan oleh ilmuan-ilmuan barat untuk menciptakan pesawat terbang. Ia lah yang kini telah menginspirasi Wright untuk membuat pesawat terbang pertama. Meski ia gagal, tetap saja gagasannya dalam rancangan pesawat terbang menginspirasi orang lain untuk menyempurnakan gagasannya. Tidak heran jika sampai saat ini, patung Ibn Firnas saat melakukan percobaan pertama diabadikan dalam lapangan terbang Internasional di Irak serta mengabadikan namanya sebagai nama bandara di utara Baghdad.

Kini, ilmuan yang dianggap gila itu telah menorehkan tinta emas dalam sejarah. Berkat hasil semangat, kerja keras, doa dan kegilaannya keluar dari zona degradasi.

Luar biasa memang, ketika masyarakat zona degradasi berusaha keluar dari keadaan terpuruk, mereka akan mempunyai motivasi yang sangat besar. Bahkan, boleh jadi motivasinya bisa 100 kali lipat dari biasanya. Keinginan, harapan dan cita-cita seseorang agar keluar dari zona degradasi merupakan motivasi yang sangat kuat untuk mencapainya. Dan jangan aneh bila masyarakat zona degradasi yang berusaha keluar dari zona tersebut akan dicap gila, aneh, mustahil dan sebagainya.

Tak masalah dianggap demikian jika kita bisa membuktikannya, bukan? Tentu itu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali dan memilih menyerah.

Jadi, kita pilih menyerah atau bangkit dari zona degradasi?

Mari ngopi sejenak

Wednesday, May 9, 2018

Belajar di Era Millenial

Motivasi Belajar di Era Millenial - Sumber Foto: amrudly.com
Belajar layaknya mendayung ke hulu.
Jika tidak maju, akan terhanyut ke bawah. NN.

C
ristiano Ronaldo, seorang pemain sepak bola terkenal di dunia mempunyai catatan sejarah yang sangat unik daripada rivalnya, yakni Lionel Messi.  Messi tumbuh dengan bakat alamiahnya dalam urusan bermain bola, baik dalam urusan mencetak gol, mengumpan bola maupun mendribble bola. Messi juga mendapatkan banyak penghargaan atas keberhasilannya dalam bermain sepak bola. Bahkan, banyak orang menyebut Messi sebagai magic man sepak bola. Bola bisa jadi ajaib jika berada di kakinya.

Berbeda dengan Cristiano Ronaldo yang akrab disapa CR7 dalam hal bakat alamiah. CR7 tidak mempunyai bakat alamiah tersebut melainkan hasil kerja kerasnya dalam belajar. Karirnya mulai melesat setelah bertemu dengan seorang guru yang hebat, Opa Sir Alex Ferguson. Berkat kerja keras belajar dan didikan langsung dari Opa Alex, CR7 tumbuh menjadi pemain sepak bola terkenal di dunia dengan segudang prestasi yang sama dengan Lionel Messi.

Belajar dari perjalanan hidup CR7, kita bisa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.  Pertama, belajar dengan sungguh-sungguh, di mana tidak ada sesuatu yang mustahil dicapai kecuali dengan kerja keras dan sungguh-sungguh. Kedua, belajar dengan seorang guru yang tepat.

Kenyataannya, tidak sedikit orang yang mulai beralih dari sesuatu yang lurus. Misalnya di jaman sekarang, teknologi sudah menjembatani bertemunya seseorang dalam proses belajar. Dalam hal belajar, tentu hal ini akan kurang maksimal. Karena hilangnya proses pendidikan yang paling berharga dalam proses belajar mengajar, yakni pertemuan.

Rasanya tidak mungkin bila CR7 belajar online dengan Opa Alex akan sehebat sekarang ini. Ya, tentu saja CR7 dididik langsung oleh Opa secara langsung tatap muka. Hal inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan CR7 menjadi pemain terbaik dunia saat ini.

Anehnya, tidak sedikit orang yang lebih asyik belajar secara online menggunakan smart phonenya ketimbang harus datang ke tempat belajar.  Tentu hal ini memang mempermudah, namun dalam segi pembelajaran tentu kesuksesan seorang murid dalam belajar adalah ketika ia bertemu gurunya. Jika belajar online, kapan ia bisa tatap muka dengan gurunya? Kapan ia harus belajar menghargai dan menghormati gurunya?

Problematika ini berada pada era millenial, di mana arah belajar sedikit demi sedikit mulai beralih ke dalam ponsel dan gadget. Positifnya, hal ini akan mempermudah mencari informasi dalam belajar, namun kekurangannya adalah hilangnya tradisi dalam belajar: menghargai dan menghormati guru.

Bayangkan saja, ketika kita butuh ilmu tinggal dicari di layar smart phone tanpa kita ketahui siapa yang menjadi gurunya. Maka dari itu di era millenial ini perlahan-lahan mulai mengesampingkan bertemu dengan guru secara langsung yang padahal menjadi kunci kesuksesan seseorang.

Meski kemudahan itu sudah sangat terasa, tetap saja belajar dengan adanya pertemuan antara murid dan guru jauh lebih berdampak dibandingkan dengan online sebagaimana kesuksesan CR7 menjadi pemain terbaik dunia. Mengapa hal itu bisa terjadi? Setidaknya ada tiga jawaban.

Pertama, kehadiran guru akan sangat membantu murid dalam memahami pelajaran yang dimaksud tanpa adanya kesalahan pahaman dalam menerima pembelajaran.

Kedua, bertemunya dengan guru menghadirkan sikap menghargai dan menghormati ilmu itu sendiri.

Dan ketiga, kehadiran guru merupakan awal dari kesuksesan seorang murid.

Dari ketiga hal ini, maka bisa disimpulkan bahwa cara terbaik untuk mampu menerima secara menyeluruh suatu pelajaran adalah bertemu dengan guru dan guru menjelaskannya secara langsung. Hal ini akan jauh lebih berdampak dibandingkan dengan hanya sekedar membaca namun tidak mendapatkan penjelasan dari orang yang lebih mengetahuinya.

Pembelajaran, kata Abigail Adams. Tidak didapat dari kebetulan semata. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun.

Marilah mulai untuk belajar secara langsung atau tatap muka di era millenial ini. Insya Allah dampaknya akan jauh lebih besar seperti CR7 yang sekarang telah menjadi pemain sepak bola terkenal di dunia berkat proses pembelajaan secara langsung dengan gurunya.

Jika CR7 bisa, kita juga pasti bisa! Insya Allah, BISA.